JENIS RISIKO SUKUK

oleh Wiku Suryomurti, MSi

I. RISIKO BAGI EMITEN

Bagi emiten, risiko ketika menerbitkan sukuk dapat dibagi menjadi Risiko pasar (market risk), Risiko operasional (operational risk) dan Risiko ketentuan syariah (shariah compliance risk). Risiko pasar terdiri dari Risiko suku bunga (interest rate risk atau rate of return risk) dan Risiko nilai tukar (foreign exchange rate risk) yang dapat di jelaskan berikut.

  1. Risiko Tingkat Bunga Konvensional

Sukuk Ijarah, Istisna, Salam dan yang didasarkan atas fixed rate menanggung akibat dari naik turunnya tingkat suku bunga konvensional. Kenaikan suku bunga menjadikan tingkat nilai sukuk kurang diminati oleh investor, terutama investor konvensional.

  1. Risiko Nilai Tukar(foreign exchange rate)

Dapat dijelaskan bahwa sertifikat sukuk didenominasi di dalam Dolar Amerika (US$) sehingga naik turunnya nilai rupiah terhadap dolar akan menjadikan nilai pembayaran terhadap investor akan berubah dari nilai awal. Seperti turunnya nilai rupiah terhadap dolar menjadikan beban pembayaran cicilan menjadi semakin besar kepada investor.

Risiko ini berdampak besar kepada Sukuk dibanding obligasi konvensional karena berdasarkan fakta bahwa sukuk tidak dapat menggunakan produk derivatif untuk membatasi potensi rugi yang mungkin dialami.

3. Risiko Operasional Sukuk(operational risk) terdiri dari

  1. Risiko kegagalan pembayaran (default risk),
  2. Risiko pembayaran kupon (coupon payment risk),
  3. Risiko pelunasan asset (asset redemption risk),
  4. Risiko  SPV (SPV specific risk),
  5. Risiko investor (investor specific risks),
  6. Risiko  berhubungan dengan aset (risk related to the asset).

4. Risiko Keterbatasan Aset

Untuk Sukuk Negara, terdapat risiko keterbatasan barang milik negara yang dapat dijadikan underlying asset. Sukuk merupakan sertifikat pembiayaan yang didasarkan atas jaminan aset rill yang besarnya didasarkan atas aset yang marketable di pasar keuangan global. Semakin banyak aset yang sesuai dengan standar yang ditentukan semakin besar bagi negara untuk mendapatkan pembiayaan dari investor internasional. Ini menunjukkan bahwa besarnya dana yang diperoleh di dasarkan pada besar aset yang kita miliki sehingga perlu juga kita memperbaiki sarana dan prasarana yang mendukung bagi persediaan aset yang layak jual

 

II. RISIKO BAGI INVESTOR

Investasi pada efek hutang umumnya dianggap kurang berisiko daripada investasi pada efek ekuitas, namun pemegang sukuk masih menghadapi sejumlah risiko. Risiko ini termasuk risiko kredit, risiko suku bunga, risiko inflasi, risiko likuiditas, risiko reinvestasi, dan sebagainya. Perubahan dalam risiko sukuk akan mempengaruhi tingkat  imbal hasil dan harga yang diminta. Tingkat pengembalian yang diperlukan dapat dinyatakan misal sebagai yield to maturity yang dibutuhkan oleh investor. Sukuk berisiko biasanya memiliki hasil yang lebih tinggi hingga jatuh tempo, yang mencerminkan diperlukannya tingkat imbal hasil yang lebih tinggi.

 

  1. Risiko Pasar (market risk)

Risiko Pasar Adalah potensi kerugian bagi investor (capital loss) karena menjual Sukuk Ritel sebelum jatuh tempo (pada saat nilainya turun). Cara menghindarinya yaitu dengan menahannya hingga maturity.

  1. Risiko  Likuiditas(Liquidity Risk) 

Risiko  Likuiditas adalah kesulitan dalam pencairan asset menjadi nilai tunai. Risiko ini bisa disebabkan karena kecenderungan produk syariah di-hold (tidak diperjualbelikan hingga jatuh tempo), tetapi untuk Sukuk Ritel para agen penjual telah menjamin untuk membeli kembali sukuk yang ingin dijual oleh investor. Risiko yang bisa terjadi adalah investor terpaksa menjual kepada agen penjual dengan harga di bawah harga pasar

  1. Risiko  Gagal Bayar(Default Risk)

Risiko Gagal Bayar adalah risiko dimana investor tidak dapat memperoleh pembayaran Dana yang dijanjikan oleh penerbit pada saat produk investasi jatuh tempo. Berhubung yang menerbitkan Pemerintah, Risiko ini sangatlah kecil (diasumsikan risk free) karena dijamin oleh Undang-undang.

  1. Risiko Kredit(Credit Risk)

Risiko Kredit adalah risiko di mana investor tidak mendapatkan imbalan bagi hasil sesuai kupon yang diperjanjikan dikarenakan kegagalan emiten/penerbit Sukuk dalam pembayarannya. Atau pembayaran tidak tepat waktu karena emiten mengalami kesulitan likuiditas.

  1. Risiko Kesesuaian/Kepatuhan Syariah(Shariah Compliance Risk)

Risiko Kesesuaian/Kepatuhan Syariah adalah risiko ketika sukuk yang akan diterbitkan ternyata tidak mendapatkan opini sesuai syariah atau shariah compliance. Seperti disebutkan beberapa waktu lalu bahwa ada banyak sukuk yang strukturnya tak lebih seperti bay al inah, di mana dalam transaksinya terjadi ta’alluq atau jual beli bersyarat.

  1. Risiko Nilai Tukar (foreign exchange risk)

Risiko Nilai Tukar adalah ketika sebuah sukuk diterbitkan dalam mata uang asing sementara mata uang lokal mengalami penurunan nilai atau terdepresiasi. Akibatnya ketika imbal hasil harus dikonversi ke mata uang asing sesuai denominasi sukuk, terdapat selisih kurs yang menyebabkan keuntungan investor berkurang

  1. Risiko Suku Bunga

Risiko Suku Bunga adalah risiko bahwa suku bunga akan berubah. Risiko suku bunga biasanya mengacu pada risiko yang terkait dengan penurunan harga obligasi akibat kenaikan tingkat suku bunga. Risiko ini sangat relevan dengan obligasi dengan suku bunga tetap dan obligasi kupon nol. Harga obligasi dan suku bunga berbanding terbalik; yaitu, harga obligasi meningkat suku bunga menurun dan harga obligasi menurun sebagai suku bunga meningkat. Terkait dengan Sukuk adalah jika suku bunga turun maka harga obligasi konvensional akan naik. Hal ini dapat mendorong investor konvensional yang ingin berinvestasi ke sukuk akan mengalihkan investasi mereka ke obligasi konvensional.

Harga dari sukuk tanpa kupon dan sukuk dengan dengan kupon mengambang seperti mudharabah dan musyarakah dapat menurun secara signifikan ketika suku bunga pasar meningkat.

  1. Risiko Inflasi

Hampir semua investor yang berinvestasi di produk investasi berbasis pendapatan tetap seperti obligasi maupun Sukuk akan terekspos risiko inflasi karena pembayaran bunga dan imbal hasil yang dijanjikan dan pembayaran pokok akhir dari sebagian surat utang yang sesuai jumlah nominal, jumlahnya tidak berubah dengan inflasi. Sayangnya, karena inflasi membuat produk dan layanan menjadi lebih mahal dari waktu ke waktu, daya beli dari pembayaran kupon dan pembayaran pokok akhir pada kebanyakan obligasi menurun.

Hal ini terjadi pula pada Sukuk. Karena pada prinsipnya, nilai par dari sukuk bersifat tetap, maka ketika sukuk jatuh tempo, misal 5 tahun lagi, nilainya akan terasa berkurang karena nilai uang yang menurun akibat inflasi.

  1. Risiko Counterparty

Counterparty risk adalah salah satu hal yang perlu untuk dipertimbangkan oleh investor sebelum melakukan transaksi bisnis dengan pihak lain. Ini mencakup penilaian terhadap kredibilitas dan kemampuan counterparty untuk memenuhi kewajibannya. Dalam hal ini, perusahaan penerbit (PP) SBSN Indonesia adalah counterparty investor dalam penerbitan Sukuk Negara yang bertindak sebagai penerbit dan wali bersamaan. Dengan demikian, memahami risiko kredit dari PP SBSN sangat dibutuhkan oleh investor.

Pada prinsipnya kita dapat mengatakan bahwa risiko counterparty dalam transaksi tertentu adalah risiko sovereign. Hal ini disebabkan investor akan memiliki pola arus kas yang sama dengan penerbitan obligasi. Praktis, hal itu akan terjadi hanya antara pemerintah RI dan investor. Misalnya dalam tahap penerbitan, ketika PP SBSN bertindak sebagai penerbit, hasil akan ditransfer langsung dari investor untuk pemerintah RI melalui agen pembayaran. Demikian pula, dalam menghasilkan pembayaran kupon Dijual ijarah dan sewa kembali struktur, PP SBSN bertindak sebagai wali amanat mewakili investor, akan menyewakan aset yang diamanatkan kembali ke Pemerintah RI (sebagai penyewa) dan dianggap akan menerima pembayaran sewa berkala dari penyewa. Ketika biaya sewa periodik ini jatuh tempo, pemerintah RI akan membayar biaya sewa langsung ke investor melalui agen pembayaran seperti yang telah ditetapkan dalam dokumen transaksi, di mana PP SBSN Indonesia memberikan kekuasaan penuh untuk pemerintah Ri untuk langsung mentransfer ke pemegang sukuk biaya sewa atas nama penerbit. Prosedur yang sama diterapkan dalam fase penebusan pada tanggal jatuh tempo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *