Optimalisasi Lahan Wakaf dengan konsep Istibdal di Indonesia

Oleh Wiku Suryomurti

Wakaf adalah salah satu perangkat keuangan dalam sistem ekonomi Islam yang terus berkembang, termasuk menggunakan skema sukuk, istibdal, hukr dan sebagainya. Berdasarkan data Wakaf tahun 2015 dari Departemen Agama menunjukkan bahwa peruntukan lahan wakaf di Indonesia sebagai besar untuk masjid.

Gambar 1.

Seandainya masjid menjadi pusat pemikiran dan pengembangan konsep ekonomi, tentu dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Fungsi masjid dalam pemberdayaan ekonomi ini bukan berarti masjid juga difungsikan menjadi pasar, karena terdapat dalil yang melarang mengadakan jual beli di dalam masjid. Oleh sebab itu, wakaf yang diperuntukkan untuk masjid perlu lebih diberdayakan, antara lain dengan menjadikan masjid menjadi mandiri dan makmur. Mampu menghidupi kegiatannya seperti pengajian, ibadah sholat dan sebagainya. Termasuk biaya-biaya pemeliharaan bangunan, listrik dan fasilitas ibadah lain.

Selain masjid, data juga menunjukkan banyak lahan wakaf diperuntukkan untuk mushola. Namun berdasar data pendukung terlihat ada yang kurang ideal, ketika lahan yang digunakan banyak sekali yang berukuran sangat kecil seperti kurang dari 50 m2. Sering terjadi juga ketika di sekitar area tersebut sudah terdapat masjid, maka fungsi musholla tersebut menjadi overlapping dengan masjid. Apabila disekitar nya sudah terdapat masjid, alangkah baik seandainya lahan tersebut diperuntukkan untuk bangunan atau aktifitas lain.

 

Jika kita menilik dari penggunaan manfaat aset wakaf, ada terdapat tiga kategori yaitu:

  1. Wakaf Ahliatau Dzury, di mana peruntukan manfaatnya adalah untuk keluarga dan ahli waris
  2. Wakaf Khairy, di mana peruntukan manfaatnya adalah untuk umat
  3. Wakaf Musytarakatau hybrid, di mana peruntukan manfaatnya adalah baik untuk keluarga maupun untuk umat/masyarakat

 

Maka paradigma berpikir masyarakat bahwa lahan yang akan diwariskan kemudian diwakafkan hanya untuk tempat ibadah, walaupun ukurannya kecil mungil, perlu ditelaah lebih lanjut karena dari sudut pandang manajemen terlihat kurang optimal.

Prinsip wakaf yaitu menahan manfaat dari aset wakaf hingga akhir zaman di mana pahalanya mengalir terus walaupun wakif (yang berwakaf) sudah meninggal memberi panduan bahwa manfaat yang diterima baik finansial maupun non-finansial harus optimal.

Ada satu solusi untuk kondisi tersebut yaitu dengan konsep istibdal.

Menurut bahasa, Istibdal artinya menukar. Secara istilah, Istibdal berarti menukar aset menjadi aset lain yang lebih berdaya guna. Dalam pengelolaan aset wakaf untuk lahan yang kecil atau sangat kecil, dapat mempertimbangkan penggunaan konsep istibdal ini. Caranya adalah semisal satu lahan wakaf berukuran <50 m2, dan berlokasi di lokasi padat, dan sang wakif berniat mewakafkan aset tersebut menjadi mushola, maka dengan konsep istibdal lahan wakaf tersebut dapat dijual lalu dibelikan aset berupa lahan lain misalnya di pinggir kota yang bernilai sama namun mempunyai luas lahan yang lebih besar, misalnya 200 m2.

Atau jika terdapat beberapa lahan dengan ukuran kecil tersebut, oleh Nazhir (pengelola aset wakaf) dapat dijual lalu dana hasil penjualan secara bersama dibelikan satu lahan di tempat lain. Yang tentu secara otomatis mendapatkan ukuran yang lebih luas. Di tempat baru ini, dapat dibangun bukan hanya sekedar mushola, namun bahkan menjadi masjid dan fasilitas pendukung seperti TPA, BMT atau koperasi masjid dan sebagainya.

Gambar 2.

Secara praktek, Isbtidal ini sudah diterapkan di Malaysia dan Singapura. Manfaatnya baik finansial dan non finansialnya akan tetap didapatkan dan mengalir terus sementara asetnya pun bernilai sama atau bahkan lebih baik.

Wallahualam,

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *